Beranda Kasus Detektif Kasus Detektif : Elliot Coil Game

Kasus Detektif : Elliot Coil Game

8

Kasus detektif terbaru ini berjudul kasus Jalan yang Gelap. jelas ini bukan cerita detektif conan, sherlock holmes ataupun hercule poirot. Ini cerita detektif Elliot Coil yang tidak terkenal itu. hehe. saya harap kasus detektif ini dapat menguji kemampuan analisa sobat. selamat membaca. ^_^

KASUS DETEKTIF : JALAN YANG GELAP

Gelagatnya seperti tak ingin. namun Elliot sekarang menjadi pusat perhatian oleh orang orang yg berada disekeliling meja makan, sebab kali itu ia menceritakan kasus pertamanya selama ia menjadi Detektif. Elliot duduk membungkuk dengan aneh namun sangat menarik. sudah setengah jalan ia bercerita,”tetapi pelakunya meninggalkan bukti berupa beberapa helai rambut di tempat kejadian. – yah – tau sendiri kan , sekarang ini air liur saja bisa diselidiki siapa yg punya. jadi sebenarnya aku tdk melakukan apa apa di kasus pertamaku itu. bukti kuatnya sudah ada.”

sambil tertawa Elliot menggaruk2 kepala karena malu.

“sebaiknya kau memulai kisahmu sekarang juga man.”

desak Elliot menyikut lengan Herman. Herman meletakkan gelas , mengaduk lalu mengangkat sendok dari gelas itu. dibetulkannya posisi mainan rubik yang tidak tersusun di depannya. Herman orangnya selalu aktif bergerak dan selalu tampak risih dengan ketidakteraturan. Herman memulai.

“dulu , seorang anak sebut saja Gin dituduh telah membunuh ibunya sendiri dengan pisau, namun ia dibebaskan dan dinyatakan tdk bersalah oleh yang berwenang karena kurangnya bukti. konyolnya polisi kembali mencari anak itu setelah pisau pembunuhan itu diketemukan. tapi terlambat ,Gin sudah menghilang dan menjadi buronan yang tidak pernah ditemukan — (Herman berhenti sejenak untuk minum) itulah kriminal yg pertamakali berada dekat denganku . kasusnya sudah lama sekali memang. tapi aku pernah melihat anak itu. dan ada sesuatu yg membuatku tak bisa lupa padanya.”

“wah ngeri juga ya. syukurlah tdk pernah terjadi hal yg semacam itu didekatku”

potong Akhmad. dilanjutkan oleh cerita cerita ngawur teman teman yang lainnya..
Elliot memandang keluar melalui jendela. dilihatnya jarum jam sudah menunjuk ke angka sepuluh lalu ia berbicara pelan ke Sagina. Sagina mengangguk

“kalau begitu kita menginap disini saja ell. boleh kan, Wi ?”

Sagina melempar pandangan kearah Wiwi. Wiwi pun setuju.

“cuma ada dua kamar kosong loh ya, tidak bisa kalau kalian semuanya nginap, jd cuma Sagina dan Elliot saja. ok”

“siapa juga yg mau menginap. istriku akan ngamuk nanti.”

kata Lana sambil tertawa kecil. giginya ditempeli potongan kecil kulit cabe, tadi habis makan sambal.

jadi malam itu Elliot dan Sagina menginap di rumah Wiwi. Herman dan Akhmad pulang kepenginapan. sedangkan Lana pulang sendirian ke rumahnya.

–(malam yang tenang namun juga kelam. kini ia terjatuh, leher belakangnya ditekan dengan kuat. ia hanya bisa melihat kearah sana, menatap malam menatap dosa dosanya. lalu tali itu ditarik semakin kuat)–

kasus teka teki dan cerita detektif
Tepat jam lima pagi saat itu. Elliot dan Sagina berjalan pulang kearah penginapan .ditengah perjalanan tiba tiba Sagina terhenti.

“ell..”

bisik Sagina pelan

“daritadi aku terus memandangi kearah sana . seperti ada sesuatu yg tdk asing lagi bagiku. — melihatnya terus membuatku merinding rasanya. apa itu teman kita ?”

kata Sagina. tangannya menunjuk.

“kau jangan menakut nakutiku aku ya”

kata Elliot. Elliot yg melirik kearah sana tiba tiba terdiam. pelan pelan kakinya berjalan lalu lari kearah sesuatu yg dilihatnya itu .

“sial ! .. Sagina cepat telepon polisi”.

tepat didepan Elliot terbaring tubuh Herman yg sudah memucat. matanya yg layu memandang lurus. mulutnya terbuka. tangan kanan Herman masuk kedalam bajunya. Elliot beralih kesekeliling. tas gantung Herman tergeletak tidak jauh dari situ.
‘perampokan’ pikir Elliot sepintas. tapi herman tidak sendirian dimalam itu. dilihatnya lagi betul2 mayat herman. ada bekas cekikan tali dileher dan darah di perutnya.

“sial”

disingkap Elliot sedikit baju Herman dengan hati hati. kuku Herman yang runcing2 itu menancap tembus keperutnya sendiri . kelima jarinya menancap di pinggang kiri.

“ada apa sebenarnya”

tanya elliot didalam hati.

Di penginapan — seseorang diluar mengetuk pintu lalu membuka dan masuk.

“ah maaf mengganggu , pak. barusan ada yg menelpon . anda diminta segera datang kerumah wiwi katanya. katanya ini penting sekali. — oh ada apa dgn kaki anda ?”

“eh loh padahal kau belum ku persilahkan masuk.”

kata Akhmad sambil tersenyum. wanita itu menepuk kepalanya. plak !!

“pintunya yg tidak dikunci tuan — ah maafkan saya.”

“tunggu sebentar ya”

Akhmad melanjutkan menggulung perban dikakinya.

“seminggu yang lalu aku terpeleset saat memancing. menyebalkan sekali aku harus mengganti perbannya setiap hari sendiri. coba ada istriku. oh iya siapa td yg memintaku datang. ada apa ?”

“katanya teman anda Herman menjadi korban pembunuhan, tuan”

“apa !!”

Akhmad cepat cepat merapikan perbannya . mengambil hp dilaci lalu berlari keluar. dilihatnya layar notifikasi. beberapa sms dan panggilan tak terjawab oleh Sagina dan nomer nomer tak dikenal. pastilah masalah Herman ini. pikirnya.
Semuanya sdh dikumpulkan. polisi akan melakukan penyelidikan kepada teman teman korban. memakai metode penyelidikan mereka sendiri. semua akan ditanyai dimulai dari orang yg paling dicurigai. Akhmad. karena bersama Akhmad lah seharusnya Herman pulang.
Akhmad (28.L) mengatakan :

“ditengah tengah perjalanan — tepat setengah perjalanan kupikir. herman mendadak berhenti. lantas aku bertanya kepadanya ‘ada apa’ . katanya ada sesuatu yg ketinggalan. aneh sekali saat itu, Herman bersikeras menyuruhku untuk pulang lebih dulu.”

“ada sesuatu yang terlupa ya katanya. oh.”

ulang polisi bernama Rafii dengan pelan. hanya ada dua polisi di bagian interogasi ini. ia mencatat semua yang menurutnya penting.

SAGINA (25.P) berkata :

“aku dan elliot menginap dipenginapan yg sama dengan akhmad dan herman tapi malam itu kebetulan kami menginap disini di rumah wiwi. paginya. kira kira jam lima pagi kami menemukan mayat herman di sisi yg lumayan jauh dari jalan. kebetulan aku melihatnya. lalu kami menghubungi polisi.”

ELLIOT (25.L) sambil menggaruk kepala berkata :

“aku dan sagina selalu bersama dihari itu — emm mungkin aku bisa bantu bapak”

elliot memberi kartu namanya. salah satu polisi mengenalinya. polisi pun mengangguk. katanya

“sabar ya kami memang akan menunjukkan-nya nanti. kesemuanya. kau Elliot yg itu ya. hoho. beruntung bisa masuk koran. ckck”

ia menuliskan sesuatu di catatan nya. kemudian mulai bertanya lagi. di tunjukinya Elliot, Akhmad, dan Sagina sambil berhitung.

“sebenarnya sejak kapan kalian berempat berada di pulau ini ?. apakah kalian semua sudah lama saling kenal ?”

“baru dua minggu kami berada disini. kami ini sedang liburan. memilih berlibur ditempat ini karena ada dua teman kami yg tinggal disini juga. yah akan kuceritakan secara terperinci. — aku dan sagina adalah teman yg akrab sekali teman sejak kecil. almarhum HERMAN itu temanku semasa kuliah . umurnya kira kira 29 tahun (M) dan sekarang ia bekerja sebagai pengacara. sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu. yah secara teknis cuma saya yg mengenal lama herman pak. laluuu… akhmad itu temannya sagina namun sebenarnya kami semua baru mengenalnya juga. wiwi dan lana pun sama . aku baru dua minggu mengenalnya.”

kata elliot menjelaskan.

“aku baru mengenal Akhmad selama kurang lebih setengah tahunan. sepertinya dia orang baik, merokok saja tidak dan alim orangnya. aku suka hasil foto2nya. ia fotographer. sedangkan wiwi dan lana adalah teman baikku semasa sd dulu.”

jelas Sagina.

“baik. intinya, cuma elliot satu satunya org yg mengenal herman lebih dari dua minggu. begitu bukan ?”

tanya polisi itu. elliot mengangguk.

“jadi kemungkinan motifnya — masih misteri ilahi ya.”

polisi Rafii kembali mencatat.

“sekarang biarkan lana dan wiwi yg bicara.”

WIWI (24.P) berkata :

“semua pulang pada pukul sepuluh malam. kecuali elliot dan sagina. mereka berdua tetap tinggal menemaniku. kebetulan saat itu aku cuma sendirian. ayah ku sedang ke kota. jadi ya aku memang berharap ada yang nginap.”

LANA (27.L) berkata :

“jam sepuluh malam aku pulang ke rumah. jalan yg kulalui berjauhan dengan jalan yang mereka lalui. jadi tidak mungkin aku melakukan pembunuhan itu kalau maksudmu pelakunya ada diantara kami.”

“kalau memotong jalan ?”

kata polisi menduga duga.

“karena — ”

ia menggambar disebuah kertas

“tempat- tempat kalian jika dihubungkan akan membentuk hurup A . dimana rumah wiwii menjadi titik penghubung (titik teratas huruf A) dan antara jalan menuju rumah lana dan penginapan. kedua jalan yg kalian lalui dihubungkan oleh jalan lain kan ?”

“tapi pak , jalan penghubung itu kalau malam gelap sekali tanpa penerangan. bukannya saya membela diri, sumpah bukan saya pelakunya.”

bahas Lana.  agak tinggi nada suaranya.

“ya kan itu kemungkinan. nah kami juga menelpon penginapan dan kami tahu kapan Ahmad sampai di penginapan pada malam itu. Akhmad sampai disana sekitar jam setengah sebelasan. sedangkan jalan itu bisa ditempuh dalam waktu 10 menit saja dgn berjalan kaki.”

polisi itu memandang tajam kearah Akhmad.

“nanti akan kami selidiki lebih lanjut lah pokoknya.”

lanjut polisi Raffi.

“nah mengenai keadaan korban. perkirakan terdekatnya ia meninggal pada pukul sepuluh sampai sebelas malam. leher dicekik. tas yang ia bawa adalah senjata pembunuhan itu kalau dilihat dari bekasnya. dibelakang leher dan dibelakang lutut kanan ada bekas tanah ,dia terbaring di rumput rumput. dan diperutnya tertusuk kuku kuku nya sendiri. nyatanya kuku korban lumayan panjang dan runcing, heran heran kuku sebegitu. nah meskipun lukanya tidak dalam darahnya lumayan banyak juga. didalam tas korban tidak ditemukan suatu benda apapun tapi kata kalian herman sempat mengeluarkan sebuah rubik dan seharusnya ada benda lain lagi. pencurian, pembunuhan huh ?”

polisi menatap semua orang sambil satu tangannya di pinggang.

“ada tidak dia membicarakan penyakit penyakitnya misalnya”

lanjutnya . polisi Raffi terus mengawasi wajah wajah dan tangannya terus menulis. entahlah apa yang tertulis di catatan itu.

“penyakit ?. dia jarang bercerita tentang dirinya. bagaimana kalau racun pak ?”

ujar Lana tak yakin.

“maksudmu ia kesakitan perutnya karena ulah sipembunuh ? — di racun ya — tapi jika ada racun yg melalui mulutnya kami pasti nanti akan tau. nanti kami tanyakan laki ke tim kami, tinggal menunggu waktu saja.”

“Kalau makanan. ada yang aneh aneh tidak yang kalian makan. sapa tau makan racun kan.”

kata polisi Raffi.

“malam itu hidangan makan malam disediakan pada pukul sembilan malam. nasi goreng dan sambal untuk tiap tiap orang dan semuanya makan. setuju ?”

“ya benar”

“lalu semuanya minum teh. semua itu disediakan oleh tuan rumah, wiwi , sagina ikut bantu bantu juga. — ya — lalu pada pukul sembilan tiga puluh, wiwi mengeluarkan setengah lusin soda kaleng yang masih dipack terbungkus pelastik. dan susu kaleng. sebelum itu lana menghamburkan banyak permen ya kan ?”

“dan yang minum soda cuma aku dan herman”

kata Ahmad.

“ya itu benar”

“bagaimana dengan permen mint itu. sudah pernah lihat youtube kalau permen mint dicampur soda ?”

“tidak ada yang makan. eh tidak cuma lana saja yang makan. sebenarnya kami tidak tau pasti”

“akhir akhir ini aku suka bawa permen , membantu menghentikan kebiasaan merokok ku. jangan bilang aku tidak sengaja membunuh orang dengan permen. setahuku itupun tidak menyebabkan kematian.”

kata Lana cemas, ia lalu membuka tasnya. polisi mengambil sebagian permen itu. pengintrogasian dihari pertama selesai. mereka semua diminta untuk berhati hati dan segera melapor jika menemukan petunjuk apapun.

pada malam itu Elliot dan Sagina sedang berbincang bincang. hanya mereka berdua.

“sebenarnya aku ingin bilang. tapi aku takut itu akan mencelakakan orang yg tidak bersalah.”

kata Sagina perlahan dan hati hati.

“oh ya ada apa, teruskan teruskan”

kata Elliot sangat antusias.

“pernah suatu ketika aku melihat lana memberikan amplop ke herman. kayaknya isinya uang. mereka tdk menyadari kehadiranku saat itu. apa itu berarti sesuatu ell.”.

mendengar hal itu, hampir lima menit Elliot terdiam.

“oke, kuyakin kamu bisa jaga rahasia, kita tak terpisahkan sedari kecil kan.. nah — kupikir — herman memeras lana.”

kata Elliot. Sagina nampak keheranan.

“bingung ya. kenyataannya lana adalah pengedar obat terlarang.”

kata Elliot.

“bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu ? sejak dulu lana orang yang baik.”

sahut Sagina marah.

“bagaimana ya, kamu melihat orang lain baik terus sih. tapi percayalah bahwa temanku herman orang yg sangat pintar menggali informasi. aku dan herman bahkan menerima uang dari lana kemaren lusa , sebagai uang pertemanan saja. yaa kata kasarnya kami memerasnya. kecil kecilan saja.”

“astaga kau ternyata tidak sebaik yang kukira ell. apakah kalian datang kesini hanya untuk itu ?”

“tidak juga. aku benar yakin kamu bisa jaga rahasia. — ngomong2 ,sebenarnya saat ini aku sudah bisa menemukan siapa pelakunya”

“benarkah ? jadi siapa pelakunya, lana kah atau jangan jangan kamu ?”

tuduh Sagina.

“bukan aku.. nah aku belum bisa memastikan. aku hanya tau ciri cirinya saja. dan memang benar dia BERADA DIANTARA KITA. aku punya informasi yg penting yg tidak boleh kuceritakan saat semuanya bisa mendengar tadi. sebentar.. akan ku telepon rafii dulu”.

Elliot membuka smartphonenya.


Nah sobat pencinta misteri , sampai disini sebenarnya kasus pembunuhan diatas sudah bisa terungkap. 
siapa pelakunya ? apa yang menjadi motif si pelaku ? kronologi ? silahkan tinggalkan hasil analisa sobat di kolom komentar. saya percaya sobat bisa memecahkan kasus ini.. 
Bagikan :

8 KOMENTAR

  1. menurut analisa gw pembunuhnya lana. lana diam diam ngikutin herman dan akhmad lewat jalan yg gelap. sebelumnya lana sdh tau si korban akan stop krn sakit perut krn dikasih soda + mint. motifnya ya gara gara herman ngebajak lana.

  2. bagus nih jalan ceritanya tapi belum saya baca semua ijin bookmark gan i dari cerita herman tentang anak yang membunuh ibunya itu ada keterikatan dengan pembunuh itu karena herman mengenali anak yang membunuh ibunya …itu analisa saya

  3. menurut gw pelakunya si Lana karena saat di introgasi dia meyakini bukan dia yang melakukanya dan dia berkata “sumpah” dan dia mengatakan bahwa si herman mati karena kercunan agar tidak ada yg menuduh bahwa herman dibunuh !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here